Tampilkan postingan dengan label wisata lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata lombok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Gili Trawangan, Surganya Bule dalam Indonesia

Ketenaran Gili Trawangan sudah terkenal, bahkan tidak kalah serta Bali. Bahkan, turis asing seringkali mendominasi turis lokal dalam Gili Trawangan layaknya surganya turis asing dalam Indonesia. Pulau gili Trawangan menjadi tujuan destinasi berwisata awal yang wajib dikunjungi. Sambil menunggu menyambut teman saya yang bakal jadi teman perjalanan menuju Gunung Rinjani. Pukul 07.45 WIB kereta Sri Tanjung meraih saya dari Yogyakarta menuju Banyuwangi. Kereta Sri Tanjung telah tak asing untuk saya. Sebelum kereta itu ber-AC, saya sudah beraneka kali merasakan perjalanan bersamanya. Sekota pukul 21.00 WIB, kereta selesai pada stasiun terakhir pada kota Banyuwangi.
Berjalan kaki sekota sepuluh menit, saya bersama bermacam anak muda Lombok dengan Bali segera menuju pelabuhan Ketapang. Bersyukur tak perlu wajib menunggu kami langsung ke kapal penyeberangan ke pelabuhan Gilimanuk, Bali sehabis merekrut tiket. Perjalanan dalam bertemu kapal lebih kurang 1 jam. Di tengah perjalanan, berbagai penumpang sempat terkejut mendengar suara benturan sengit . Rupanya kapal yang saya naiki pernah bersenggolan juga kapal lain entah apa penyebabnya.

Dominan satu kali saya lihat kapal yang lalu lalang di tengah selat Bali malam itu. Mungkin sebab jelang Lebaran, selanjutnya lintasnya menjadi padat. Satu kota pukul 24.00 WITA kapal bersandar dalam dermaga pelabuhan Gilimanuk. Saya dengan rombongan segera bergegas menuju Terminal Gilimanuk untuk menggilai angkutan menuju pelabuhan Padang Bay.

Kami mendekati suatu bus kecil yang sepertinya bakal segera berangkat serta memperhatikan seorang pemudi sedang bernegosiasi cukup alot dengan kondektur atau mungkin calo. Uniknya, untuk menawar harga yang agak mahal dia dengan temannya menuturkan kalau kami serta rombongan mereka. Akhirnya ongkos disepakati 50 ribu rupiah. Tidak jauh dari perkiraan saya sebelumnya.
Setengah perjalanan saya ngobrol dan salah satu teman rombongan, setengahnya lagi tidur, mengingat sungguh sudah saatnya tubuh wajib istirahat. Satu kota pukul 04.00 WITA kami tiba di pelabuhan Padang Bay. Kami berniat menggandrungi warung untuk istirahat minum minuman hangat sambil menunggu kapal yang akan berangkat.

Pelabuhan masih sepi, saya sekedar atas juga satu bapak yang menjual nasi bungkus. Sebungkus nasi saya habiskan untuk sarapan pengganti makan malam. Tidak lama kemudian, kami masuk ke kapal ke pelabuhan Lembar. Salah seorang teman mengajak demi istirahat pada dek wajib bersua sambil menunggu sunrise. Angin kencang juga awan yang tebal membuat saya bukan percaya dapat menggunakan indahnya pemandangan sunrise pada atas kapal.

Tetangga pukul 11.00 WITA, sehingga saya tiba pada pulau Pulau Lombok. Seusai hampir 1 jam kapal mengantre bersandar. Pada pelabuhan Lembar saya berpisah juga rombongan. Pergi dari pelabuhan, saya berjalan menuju alternatif raya demi menggilai angkot ke terminal Mandalika juga yang lain ke Pulau gili Trawangan. Pada perjalanan menuju terminal Mandalika saya melongok tetap dominan pura. Tak salah memang jika pulau Pulau Lombok selalu bersaudara serta pulau Bali, bagaimanapun mayoritas penduduknya beragama Islam.
Selingkungan pukul 14.00 WITA saya tiba pada pelabuhan Bangsal . Selepas merekrut jatah tiket kapal, saya menuju kapal yang sudah dikatakan menurut penjual tiket. Pelabuhan Bangsal yaitu lokasi penyeberangan menuju menuju Gili Meno, Gili Air, juga Gili Trawangan. Gili Trawangan jadi tujuan yang wajib ramai dikunjungi.
Tidak berapa lama, awak kapal berteriak memanggil semua penumpang yang akan ke Gili Trawangan, persis setelah berita dari pihak penjual tiket yang memberitahukan kalau quota penumpang terpenuhi. Tiga puluh menit selanjutnya, sehingga saya mendarat pada Pulau gili Trawangan yang keindahannya telah populer setelah ke luar negeri. Kesan awal sesaat seusai menginjakkan kaki dalam pulau kecil itu yaitu, ramai hanya sekali.

Sambil menggendong backpack saya berjalan mengelilingi jalan-jalan pada pinggir pantai Gili Trawangan, sambil menyukai spot demi snorkeling besok pagi dari referensi yang telah saya baca. Dari perhitungan google maps, berjarak hanya selingkungan 7 km, cukup untuk pemanasan kaki persiapan mendaki gunung Rinjani. Sepanjang perjalanan saya lebih sangat banyak menghadapi turis-turis mancanegara dari dalam sesama negeri sendiri.

Saya yang berjalan seorang diri benar-benar rasanya asing seolah berada tak dalam Indonesia. Dari apa yang di cermati dengan didengar, mendalami pernah saya membicarakan suasana semacam itu. Mungkin sudah terlambat saya asal kesini. Kenapa bukan dari dulu sebelum terkenal ke semua lapisan didunia. Itulah kesan kedua saya. Sungguh turis-turis internasional tersebut adalah yaitu publik Gili Trawangan, sementara warga lokalnya kebanyakan pengusaha atau penjual jasa. Semoga mereka dapat bekerja sejenis menjaga kelestarian alam Pulau gili Trawangan.

Hampir setiap pantai bagian timur yang saya lihat ramai sekali dengan event orang, maksimal yang tampil dalam air atau cuma duduk atau tidur dalam menghadapi pasir. Sedangkan bagian sebelah barat makin sangat banyak kafe saya jumpai, tidak banyak orang tampil dalam laut. Sehabis seorang setengah jam berjalan, saya akhir dalam sebuah pondok dalam pinggir pantai untuk memakai dengan mengabadikan moment sunset. Wow, memang indah!

Langit yang bersih berselaput lembayung senja, dengan bulatnya matahari yang perlahan-lahan turun menuju peraduan malam benar-benar pemandangan sunset yang sempurna. Semoga sunrise esok pagi dan sempurna. Perjalanan saya lanjutkan ke sisi timur pantai demi menyukai lokasi nge-camp menunggu sunrise.

Setelah berjalan lebih kurang satu jam, saya menemukan lokasi yang pas dalam pinggir pantai. Sepi dari keramaian, namun masih dekat juga rumah penduduk. Seusai memanfaatkan makan malam nasi urap khas Gili Trawangan, saya segera beristirahat untuk memulihkan tubuh. Pukul lima pagi saya bangun dengan segera membereskan tenda. Telah sangat banyak orang beraktifitas pagi ini, jogging, alternatif kaki, atau bersepeda keliling pulau.

Pagi yang cerah, gumpalan-gumpalan awan minor menggantung dalam langit, dan Gunung Rinjani nun jauh disana diterangi bulatnya si mentari yang beranjak dari peraduannya. Oh, indahnya pagi ini. Saya bersyukur berhasil menggunakan sunset dan sunrise di lokasi yang terbaru saya singgahi pembuka kali. Jadi bersemangat demi memulai kegiatan hari itu.

Saya segera menggandrungi tempat penyewaan alat snorkeling demi menggunakan alam bawah laut Gili Trawangan yang telah populer. Hampir setiap lokasi persewaan menawarkan trip snorkeling sebanyak 3 spot, tetapi saya sungguh sudah berniat demi snorkeling di pinggir pantai saja, mengingat waktu yang terbatas. Sehabis alat yang cocok saya mampu, segera saya berjalan ke menuju arah selatan sisi timur pulau gili mencari hotel Vila Ombak.

Kepada ceritanya kurang lebih 50-100 m dari Pantai Vila Ombak, pemandangan bawah lautnya amat apik. Bukan lama berjalan, saya melongok dominan gazebo-gazebo berdiri di pinggir pantai juga papan nama Villa Ombak. Saya segera menuju pinggir pantai mencintai tempat yang teduh demi menjalankan pengamatan. Ombak masih cukup tinggi dan mempelajari berada orang tampil di laut, saya ragu untuk segera berenang.

Saya berjalan kembali menuju menuju selatan, namun serta selalu mengamati menemui event di pantai. Mungkin masih pagi, realitasnya telah pukul 10 lebih. Saya berjalan kembali menuju arah utara juga sehingga saya melihat berbagai turis asing bersiap berangkat juga kapal demi diving. Telah berada aktivitas berarti, mulai terjun menuju laut.

Memang benar datangnya, kira-kira 50-100 m dari pantai, pemandangan bawah laut Pulau gili Trawangan masih eksotis, tidak butuh sewa kapal. Di berbagai tempat kapal bersandar, alam bawah lautnya selalu terjaga. Bermacam berbagai terumbu karang serta ikan membuat saya betah berenang kesana bergabung, tak takut gulungan ombak setinggi 1 m yang kadang mengombang-ambingkan tubuh. Memang sangat mengagumkan. Sukses mengobati rasa keterasingan saya.

Pulau Lombok Bukan Cuma Pulau gili Trawangan, Ada Pulau gili Sudak

Matahari siang tersebut cukup menyengat. Namun teduhnya kapal perahu yang kami tumpangi, dan semilirnya angin laut sepoi-sepoi, membuat udara dalam Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, jadi sejuk.
Suara mesin kapal yang sedikit berisik, berbenturan juga bunyi ombak minor yang menghantam sisi bawah kapal. Sepanjang mata memandang, terlihat laut biru muda yang dikelilingi oleh tepi pulau hijau dalam sekitarnya. Sesekali terlihat dan kapal dan perahu yang melintas.

Perjalanan dari tepi pulau Lombok ke sesuatu pulau minor bernama Gili Sudak tersebut pun menjadi amat mengasyikkan. Berbicara soal pulau gili - begitulah mereka membicarakan pulau sampingan dalam sini - pasti kamu langsung teringat juga Pulau gili Trawangan. Sebuah pulau gili yang sungguh telah sangat populer dalam negara wisatawan di juga luar negeri.

Namun kami sengaja menentukan pulau gili lain, yang selalu sepi dengan jauh dari keramaian manusia. Demi dikenal, Pulau Lombok tersebut memang memperoleh sangat banyak pulau gili dalam sekitarnya, juga kebanyakan tetap menanggapi ramai dijamah manusia.

“Welcome to our island. Nobody here. Just you and me. Pulau tersebut tetap amat jarang pengunjungnya. Selalu perawan, kamu yang memerawaninya,” tutur pemandu tamasya kami, Fakhrurozi, ketika kapal sampingan kami akirnya merapat di Pulau gili Sudak.

Sesuai serta yang dikatakan Fakhrurozi, hanya terdapat beberapa bangunan dalam bagian luar pulau ini. Sementara pada sisi dalamnya adalah pohon-pohon hijau yang membentuk suatu hutan belantara.
Pengunjungnya ketika itu juga, kebetulan sekedar rombongan kami saja. Kesan liar dengan eksotis langsung terasa menyebar pada semua penjuru pulau tersebut.

Kita pun langsung disambut tapi rekan-rekan Fakhrurozi yang telah menunggu dalam sana. Makanan lezat langsung dihidangkan, mengingat saat ketika tersebut menunjukkan jam makan siang.

Perut yang pertama sudah keroncongan juga langsung dipenuhi dan ikan laut bakar dengan kelapa muda. Menu yang sungguh pas disantap dalam pinggir pantai, sambil memandangi panorama laut biru nan indah.

Sehabis perut kenyang, ketika yang ditunggu-tunggu pun tiba. Snorkeling. Demi mampu menanggapi terumbu karang juga ikan-ikan yang indah, tak butuh bergerak sampai jauh menuju tengah laut.

Sekedar berjarak bermacam meter dari tepi pantai, terumbu karang juga sudah mulai bermunculan. Namun bahwa bergerak lebih menuju tengah lagi, tentu saja spesies terumbu karang serta segala bentuk ikan semakin ramai bermunculan.

Melihat beberapa ikan yang tak dilihat nama dan jenisnya itu meliuk-liuk pindah masuk terumbu karang, menimbulkan rasa iri. Seumpama bisa, rasanya berharap menjelma menjadi spesies ikan dengan ikut berenang dalam antara terumbu-terumbu karang tersebut. Tinggal sementara pada dunia bawah laut yang apik, melupakan kepenatan yang sudah ada di daratan.
Selain biota bawah lautnya memang indah serta kaya, keasyikan snorkeling pada Pulau gili Sudak ini juga didukung tapi arus air lautnya. Arus air laut yang rileks, bukan berombak, menjadikan keasyikan tersendiri saat kamu mencelupkan bagian wajah kamu ke permukaan air. Anda berhasil melongok menuju dasar laut dan santai, nyaman serta damai seakan tanpa gangguan.
“Kalau ombaknya besar, susah demi snorkeling. Nanti bisa pusing serta mual,” kata Fakhrurozi.

Hujan Bukan Rintangan
Berwisata alam ketika musim hujan seperti sekarang memang mampu jadi masalah besar. Acara liburan mampu rusak pada sekejap dan hujan yang asal mengguyur. Tetapi sebuah tersebut tidak berlaku kepada kami.
Meski hujan cukup deras telah mulai turun, namun kami masih asyik menyatukan diri serta alam yang ada di Gili Sudak. Tak berada yang mundur saat hujan turun mengguyur.

Beraneka tetap asyik snorkeling. Tetapi ada serta yang telah sejak beralih ke pagelaran lainnya, mengayuh-ngayuh perahu kano. Nah, kekurangan yang tetap selalu terasa dalam Pulau gili Sudak tersebut yaitu minimnya fasilitas.
Selain snorkeling dan perahu kano, serupa satu kali bukan tersaji fasilitas hiburan yang lain. Tapi suatu itu wajar mengingat selalu jarangnya pelancong yang mengunjungi tempat tersebut.

Menjadi, beberapa pada diantara kami yang sudah puas dan snorkeling, juga tidak kebagian perahu kano yang jumlahnya minim, menikmatinya dan berenang atau sekadar berendam. “Kalau ke atas malah dingin, enak dalam sini berendam, hangat,” ucap Danu, satu diantaranya jurnalis sarana dunia maya.

Pulau gili Ukuran Mini
Dari Pulau gili Sudak, terlihat sesuatu gili berukuran mini yang dinamakan Pulau gili Gendis. Kami juga menyempatkan diri menyeberang ke sana karena bentuknya yang sejak tadi membuat kami perhatian.
Gili Gendis dalam Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Cuma butuh ketika sekitar lima menit demi menyeberang menikmati perahu mesin. Semakin perahu mendekat, rupa Gili Gendis semakin tampak lanjut.

Bentuk pulaunya hampir membentuk lingkaran. Dalam bagian luar, pulau, pasir putih kecokelatan kelihatan melingkar mengikuti kontur pulau. Sedangkan di sesi dalam, terdapat pepohonan lebat yang juga membentuk lingkaran.

Sesampainya di sana, kami pun memutuskan demi makin mengetahui gili tersebut dan berjalan satu putaran mengitarinya. Cuma berada seorang gardu kecil di pulau gili ini, sisanya selalu alami tanpa modifikasi tangan-tangan manusia. Kesan liar serta eksotis pastinya makin kentara pada Gili Gendis tersebut. Berhenti berkeliling, Fakhrurozi yang senang bercanda juga kembali berkelakar.

“Nanti apabila kalian pulang ke Jakarta, kalian mampu gossip bahwa kalian telah berjalan kaki keliling seorang pulau,” selorohnya.

Gili Air, Pulau Asyik Tanpa Kendaraan Bermotor

Tinggal di ibukota, pasti kamu sudah amat jenuh juga suasana kota yang macet serta penuh polusi. Jika begitu, bukan berada salahnya demi uji coba berlibur menuju Pulau gili Air. Inilah pulau cantik tanpa polusi kendaraan bermotor.
Pulau gili Air sebagai satu diantaranya dari tiga gili atau pulau yang terdapat di daerah Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. 2 Pulau gili lainnya, Gili Trawangan, dengan Gili Meno letaknya pada sampingnya. Tutur Gili pada bahasa Sasak berarti pulau minor, Gili Air sungguh sampingan dan sukses dijelajahi dalam satu hari.
Untuk mencapainya, pengunjung dapat lewati jalur laut & udara. Tips termudah yang sangat ekonomis merupakan dan menaiki kapal penduduk dari pelabuhan Bangsal. Kamu dan dapat menyewa speedboat, bahkan helikopter, sesuai kocek anda. Keadaan perjalanan begitu juga tidak lama, tidak sampai dua jam, dengan Anda akan tiba pada surga kecil yang bernama Gili.
Gili Air ialah tempat yang belakangan sejak terkenal di tempat turis lokal dengan domestik. Perlahan Pulau gili Air sejak menggantikan pantai Kuta, Bali yang semakin padat serta turis.
Kelebihan nomor satu dari Pulau gili Air ialah, kendaraan bermotor tak boleh dioperasikan di tempat tersebut. Berjalan kaki dengan bersepeda menjadi opsi transportasi nomor satu di pulau tersebut. Pasti saja pengunjung bukan bakal menemukan polusi dewasa ini kemacetan, kondisi yang tidak akan ditemui di kota besar.
Gili kedua ternama seusai Gili Trawangan tersebut serta mempunyai pemandangan bawah laut yang mengundang decak kagum. Aktifitas snorkeling serta Scuba Diving sering dipertemukan tapi turis yang berasal berkunjung. Menurut yang memilah tidak sempat mencoba, terdapat penyedia jasa yang dapat mengajarkan kamu caranya memasuki profesional.

Suasana pantai romantis, dibalut serta nuansa tradisional juga keramahan penduduk Sasak, menciptakan lokasi itu jadi salah satu target untuk honeymoon. Sungguh memilah tidak pas tentunya, seandainya kamu tidak mengunjungi Pulau gili Air ketika mendarat ke daerah Lombok.
Lihat apa lagi? Segera ambil cuti serta berkunjunglah ke Pulau gili air. Kamu tak bakal menyesal.

Pantai Tanjung Aan: Pada Kanan Pasir Putih, pada Kiri Pasir Merica

Berada pantai yang unik pada Pulau Lombok, namanya Pantai Tanjung Aan. Bayangkan, pantai tersebut punya 2 pasir pantai yang berbeda, ialah pasir putih yang halus juga pada sebelahnya merupakan pasir berbentuk merica berwarna krem. Ajaib!

Pantai-pantai di Lombok boleh diadu dengan Bali. Tiap wilayah di Lombok, milik pantai yang cantik dan keunikan masing-masing. Mirip pada Pantai Tanjung Aan, pantai tersebut miliki dua jenis pasir pantai yang beda!

“Memang Pantai Tanjung Aan unik, berada pasir putih dengan satunya lagi pasirnya krem, serta seperti merica,” tutur pamandu lokal, Surya Pratama
2 pasir pantai tersebut dibatasi menurut suatu tebing besar yang ada dalam tengah-tengahnya. Pelancong juga bisa naik menuju bersua tebing ini serta memperhatikan perbedaannya juga tambah. Luar biasa, benar-benar keajaiban alam!
Berjalanlah serta telanjang kaki pada pantai serta butiran pasir sebesar merica dengan berwarna krem, maka kaki Kita bakal sedikit terasa sakit. Meskipun demikian, rasa takjub bakal menundukkan rasa sakit ini. Hamparan butiran pasir sebesar merica ini pun terhampar lebar.
Dalam sesi kanan pantai, hamparan pasir putih sudah menanti Kamu. Pasirnya sangat halus serta lembut ketika disapu juga kaki Kamu. Selain itu, di bagian pantai itu dan terdapat hamparan batu karang berwarna hitam. Berbeda juga di sesi kirinya yang berupa pantai landai.

“Di satu kota pantai dengan bukan ada rumah-rumah penduduk. Akhirnya suasanya sepi serta tenang,” jawab Surya.
Dalam pantauan detikTravel, bukan sedikit pengunjung yang menghabiskan ketika demi berfoto-foto di sini. Seluruh kalangan lokal juga dominan yang tampak memancing dalam satu kota pulau.

“Untuk masuk menuju pantai itu, hanya dikenakan biaya parkir saja yaitu Rp lima ribu untuk motor, Rp 7.500 untuk mobil, dan Rp 10 ribu untuk bus.” jawab Surya.
Pantai Tanjung Aan ada pada kawasan Kuta, Lombok Tengah. Perjalanan selama dua jam dari Senggigi juga seolah terbayar lelahnya. Lihatlah dua pasir pantai yang berbeda di dalam satu pantai, sebelah kanan pantai berpasir putih juga pada sebelah kiri pasir berwarna krem juga butiran pasir sebesar merica. Pantai Tanjung Aan seolah menjadi bukti, Lombok memang ajaib!

Gili Trawangan, Pilihan Berlibur Usai Minggu

Pulau gili Trawangan pada Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, ramai dikunjungi pengunjung yang berlibur usai pekan untuk memakai keindahan alam dalam obyek wisata bahari tersebut. Eksekutif Asisten Pelatih Vila Ombak Gili Trawangan I Made Mada yang dihubungi dari Mataram, Jumat (7/6/2013), mengucap mulai Kamis (6/6/2013) seantero kamar telah penuh dipesan tamu yang libur usai pekan pada Sabtu juga Pekan. “Saat itu sesungguhnya sedang musim sepi pengunjung, namun dalam setiap berhenti pekan sangat ramai. Para pengunjung menentukan obyek tamasya Gili Trawangan ialah lokasi berlibur berhenti pekan,” katanya.

Sebab tersebut, lanjut Mada, season sepi kunjungan pengunjung tersebut bisa diatasi juga munculnya kunjungan segala tamu yang libur berhenti pekan dalam destinasi liburan itu. Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata dan Komunikasi Kabupaten Lombok Utara, Sinar Wugiyarno menyatakan realisasi kunjungan wisatawan sepanjang 2012 mencapai 416.000 orang, bagus pelancong mancanegara ataupun nusantara.

“Kami optimistis target kunjungan 500.000 wisatawan di 2013 dapat kita wujudkan, dikarenakan mulai awal 2013 arus kunjungan pelancong cukup ramai. Pada perayaan tahun baru 2013 tercatat sebanyak sembilan.000 wisatawan mengunjungi Pulau gili Trawangan,” katanya. Objek wisata bahari Gili Trawangan, menurut Sinar, sebagai satu diantaranya destinasi andalan Kabupaten Lombok Utara yang paling ramai dikunjungi pelancong. Mendalami lagi obyek wisata lain yang dan ramai didatangi turis.
Seumpama target kunjungan di 2013 dalam Kabupaten Pulau Lombok Utara tercapai itu berarti kabupaten Lombok Utara yang terbaru berumur 4 tahun dapat memberikan donasi 40 persen dari target kunjungan pengunjung di Propinsi Nusa Tenggara Barat yang di 2013 sebanyak dua juta orang. Sinar menyebut, kunjungan pelancong dunia maupun nusantara mulai kabupaten ini terbentuk, dari musim ke musim mengalami peningkatan. Beberapa kawasan bertamasya menjadi unggulan dalam Kabupaten Pulau Lombok Utara, misalnya Gili Trawangan di Desa Pulau gili Mengagumkan, Kecamatan Pemenang, yang makin diminati pelancong.
“Ini dengan mempengaruhi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) yang satu kota 70 persen disumbang dari sektor pariwisata,” ujarnya.
Buat Sinar, pihaknnya bakal terus menjalankan pembenahan destinasi liburan guna memberi kenyamanan menurut seluruh wisatawan demi memakai obyek tamasya itu.

“Kita sudah melaksanakan upaya pembenahan di Pulau gili Trawangan dan membangun jalan lingkar sepanjang tujuh kilometer demi memberikan kenyamanan menurut segala wisatawan mengelilingi gili juga menggunakan cidomo (sejenis kereta kuda) atau sepeda,” ujarnya.

Tiga gili, yani Trawangan, Meno dengan Air sejauh ini tetap merupakan obyek bertamasya bebas polusi, karena publik setempat melarang kendaraan beroperasi pada pulau-pulau minor tersebut.